CN105 | Kisahku berawal kurang lebih 1
bulan yang lalu. Dengan kepandaianku
mengelola bisnis saat itu aku telah memiliki banyak pelanggan di bengkelku. Kebanyakan dari mereka adalah para karyawan
yang bekerja di wilayah perkantoran itu. Salah satunya sebut saja Mbak Santi, usianya 35 tahun.
Ia adalah seorang manager di
suatu perusahaan. Wajahnya cukup
menarik, dengan kulit putih bersih.
Tubuhnya sangat seksi, padat, dan
berisi. Payudara Kenyal Tante Membuatku
Terangsang Yang menjadi pusat perhatianku adalah bentuk payudaranya. Bentuknya besar, tapi terlihat serasi dengan
postur tubuhnya. Aku sering membayangkan jika suatu saat dapat merasakan
halusnya kulit dadanya dan meremas bahkan mengulum putingnya susunya.
Malam itu saya sedang menunggu
Taksi mau pulang, karena mobil yg biasa saya pakai, dipinjam adik. Saya baru
saja selesai menutup bengkel. Sekitar 10 menit saya menunggu, datang mobil
sedan menghampiriku, lalu kaca mobil itu terbuka, dan kulihat Mbak Santi di
dalam mobil mewah itu memanggilku, dia pun bertanya.
“Mau kemana An..? kok sendirian,
mau saya antar nggak?”
Tanpa basa-basi saya lalu
memasuki mobil mewah itu, kemudian kita mengobrol di dalam mobil. Singkat kata
Mbak Santi mengajakku ke diskotik, waktu itu malam minggu. Sesampainya di
diskotik. Kami mencari table yang kosong dan strategis di pojok tapi bisa
melihat floor dance.
“Saya sedang pesan lagi satu
untuk kita berdua,” kata Mbak Santi.
Untuk “on”,
saya memang butuh dorongan inex,
tapi cukup setengah, sementara satu setengahnya lagi untuk Mbak Santi. Ternyata
takaran satu setengah baru cukup untuk Mbak Santi. Ternyata Mbak Santi suka
triping. Pesanan tak lama datang. Kubayar billnya.
Ditanganku ada dua butir pil
inex, yang satu saya bagi dua. Mbak Santi segera menelan satu setengah, dan
sisanya untuk ku. Setelah 15 menit, Mbak Santi terlihat semakin on. Maka kami
berjoget, menari-nari, dan berteriak gembira di dalam diskotek yang penuh
dengan orang yang sama-sama triping. Saat saya berdiri dan melihat Mbak Santi
“ON” berjoget dengan erotisnya, tak lama kemudian Mbak Santi menghampiri dan merapatkan tubuhnya yang mulus itu ke depanku.
Ia mengenakan t-shirt putih dan celana warna gelap. Dalam keremangan
dan kilatan lampu diskotek, ia nampak manis dan anggun. Saya kembali
menyibukkan diri dengan bergoyang dan memeluknya belakang tubuhnya. Sesekali tangan ku dengan nakal meremas dada Mbak Santi
yang masih tertutup kemeja. Tanganku kian nakal mencoba berkelana dibalik kemejanya dan meremas ke dua
gunung kembarnya yang masih terbalut BH.
Tanganku akhirnya dapat merasakan
halus dari payudara Mbak Santi, jari-jari ku mencari-cari puting payudara Mbak
Santi dengan menyusup ke dalam BH Mbak Santi. Saya remas dada Mbak Santi dengan
perasaan, lalu tanganku bergerak ke punggung Mbak Santi berusaha membuka
pengait bra itu, aku sudah berhasil melepas pengait BH nya sehingga dengan
bebas tangan kananku membelai dan meremas buah dadanya yang keras sementara
tangan kiriku masih tetap mendekapnya dan mulutku pun menciumi leher jenjang
itu.
Sambil tanganku memainkan puncak
puting susu itu hingga memerah akibat remasan tanganku. Sementara Mbak Santi
hanya memejamkan matanya meresapi setiap jamahan tangan dan terus bergoyang
mengikuti irama, saya terus mengelus dadanya sehingga membuat Mbak Santi dari
gerakan tubuhnya Mbak Santi memang kelihatan ingin sekali dipuasi, terlihat
dari pantatnya yang montok dan masih terbalut rok, terus merapat ke ke
belakang.
“Kamu sudah on berat ya?”
katanya.
Saya tersenyum, kupeluk tubuhnya
dan kucium pipinya.
Pada pukul 02.00 pagi, DJ
mengumumkan discothique akan terus buka sampai pukul 05.00. Pengunjung
bersorak-sorai riang gembira. Tapi Mbak Santi kelihatannya sudah mulai “Droop”.
“Sayang saya sudah lelah,” keluh
Mbak Santi.
“Ah, masa lelah, sayang,” ucapku
sambil terus memeluk erat dan menciumi leher belakangnya.
“Sayang.. kita pulang yuk..,”
katanya.
“Saya ingin istirahat”.
“Pulang ke mana?” tanyaku.
“Ke mana aja” jawabnya.
Saya baru mengerti, bahwa dia
ingin lanjut ke tempat tidur. “Saya sebenarnya sudah booking kamar di hotel
dekat sini” ujarnya.
“Kalau begitu. kita ke sana”
“Tapi tunggu, saya mau bilang
temen dulu yang lagi digaet cowok di pojok sana,” katanya.
Tepat pukul 02:30 dini hari kami
keluar dari discothique tersebut dengan
rasa puas dan senang terus kami menuju
ke hotel. Sesampainya kami dikamar Mbak Santi langsung berjoget lagi kali ini
tanpa musik tapi dia yang bernyanyi dan sembari melucuti pakaiannya pas seperti
orang sedang menari striptis, saya hanya melihat dan duduk disebuah kursi sofa
yang ada tepat didepan jendela. Sambil menari dan melucuti pakaiannya Mbak
Santi menghampiri saya dan segera jongkok didepan saya sambil membuka resleting
celana saya, saya hanya memperhatikan apa yang akan dilakukannya,
“Wowww.. besar dan kencang
sekali.. buat Santi ya..”
Kemudian Mbak Santi mengulum penisku yang
menegang sejak tadi.
“Ooogghh.. sshh.. enak sekali
San..”, ucapku.
Dia mengeluarkan penis saya yang
sudah setengah tegang dan langsung diisapnya dalam-dalam. Jago memang Mbak
Santi dalam memainkan isapannya, sambil mengisap lidahnya terus menari dan
meliuk diteruskan ke buah zakar saya, setelah 10 menit naik dan turun dia isap
dan jilatin penis saya, Mbak Santi melemparkan tubuhnya ke atas kasur, dan
jatuh telentang. Langsung saya menyergapnya, dan kami bercumbu dengan dorongan
nafsu sangat tinggi karena pengaruh inex. Kami berciuman, beradu lidah dan
bergantian mengisapnya. Kuciumi pipinya, matanya, keningnya, dagunya. Kujilati
daun telingaya, dan kusodok-sodok lubang telinganya dengan lidahku.
Tanganku tak diam. Mengelus dan meremas rambutnya,
menyusuri leher dan belahan dadanya. Kuusuap-usap perutnya, punggungnya, dan
bokongnya. Kubekap vaginanya yang ditumbuhi bulu halus nan rimbun. Jari manis
dan telunjukku merenggangkan pinggiran vagina Santi. lalu jari tengahku
mengorek-ngorek klitorisnya dengan penuh perasaan.
“Ooh.. sshh.. aahh..!” desah Mbak
Santi.
“Sayang..,” dengusku sambil terus
mencumbunya.
Aku menarik tanganku dari vagina
Mbak Santi. Kini kedua tanganku mengelus-elus pinggiran payudaranya. Berputar
sampai akhirnya meremas bagian putingnya. Akhirnya anganku tercapai.
“Oooh.. terus.. say..!” desah
Mbak Santi lagi.
Saya jilati pinggiran buah
dadanya, lalu menghisap putingnya.
“Oohh.. sayang..!”
Mbak Santi merintih nikmat. Mbak
Santi bangkit dan mendorong aku supaya telentang. Ia melakukan cumbuan meniru
caraku. Ia pun membekuk penisku dan mengelusnya dengan tekanan yang
membangkitkan birahi. Mbak Santi memutarkan badan di atas tubuhku yang
telentang. Ia menciumi dan menjilati penisku sementara vaginanya disumpalkan ke
mulutku. Akhirnya Mbak Santi menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menarik
tanganku. Sementara buah dadanya kian kencang. Putingnya kian memerah.
Nafasnya tersengal-sengal.
Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Seperti keringatku. Juga nafasku.
Juga si nagaku yang sudah meronta. Dia sepertinya bingung ketika kuambil dua
bantal. Dengan lembut kuangkat tubuhnya, lalu bantal itu kuletakkan di bawah
pantatnya. Menyangga tubuh bagian bawahnya. Membuat pahanya yang putih mulus
kian menantang. Terlebih ketika bukit venus dengan bulu-bulu halusnya menyembul
ke atas. Membuat magmaku terasa mau meledak. Dia mengerang saat lidahku
kemudian jemariku mengelus-elus bulu-bulu itu.
Dia menjerit saat kucoba menguak
kemaluannya dengan jari telun-jukku. Otot pahanya meregang saat kuhisap
clitorisnya.
“Masukkan penismu, cepat sayang,”
rintihnya.
“Aahh..!”
Rintihan kenikmatannya kali ini
terdengar nyaris seperti jeritan.
Aku jongkok di pinggir tempat
tidur, kutarik kaki Mbak Santi sampai bokongnya berada di tepi ranjang.
Kusingkap selangkangannya, dan kulumat vaginanya yang sudah becek. Kubalikkan
tubuhnya, kujilati bokongnya sambil sesekali setengah menggigitnya.
Kukorek-korek anusnya dengan jari tengahku.
“Ouuwww.. ooh.. sshh.. sayang,
cepet masukan!” katanya memelas-melas.
Semakin Mbak Santi memanas
birahi, aku semakin terus mempermainkannya dan belum mau melakukan penetrasi.
Aku melihat Mbak Santi sampai meneteskan air mata menahan orgasme. Dipegangnya
penisku yang sudah membesar ini. Dia bimbing dan penisku terasa menyentuh bibir
kemaluannya. Dia melepaskan pegangannya. Kudorong sedikit. Dia menjerit.
Kutahan nafas. Lalu kutekan lagi.
Dia memekik,,
Pada dorongan kesekian kalinya
sasaran lepas lagi. Dia terengah-engah. Aku mengambil posisi. Duduk setengah
jongkok, kedua kakinya kutarik. Membuat jepitan atas tubuhku. Kuarahkan penisku
ke lubang yang basah dan menganga itu. Ketika kudorong dia meremas rambutku
kuat-kuat. Kutekan. Dan kutekan terus.
Tak memperdulikan rintihannya.
Kedua kakinya meregang ototnya. Dengan penuh keyakinan kutambah tenaga
doronganku. Pertama terasa gemeretaknya tulang. Kemudian terasa sesuatu yang
plong. Membuat dia menjerit, merintih keras,
“Acchh.. sshh..”
Ketika kupacu dia dengan irama
yang lambat dia mengerang, menjerit, merintih terus. Kuubah posisi. Kini kedua
tanganku berada di belakang punggungnya. Membuat kaitan diantara ketiaknya. Dia
meremas rambutku seiring dengan naik turunnya tubuhku. Kukunya mencengkram
punggungku ketika kukayuh pantatku penuh irama. Naik dan turun. Tarik dan
dorong. Rintihan dan jeritannya seakan tak kupedulikan. Aku berhenti di tengah
jalan. Dia meronta. Membuka matanya. Dengan wajah kuyu. Dari keringat kami yang
menyatu. Tanpa diduga, dia mulai mengikuti irama permainanku. Dengan menahan
rasa sakit dia menggerakkan pinggulnya. Memutar dan memutar. Sesekali menyentak
tubuhku yang di atasnya.
Tak lama kemudian Mbak Santi
merubah posisi menduduki pahaku, memegang penisku dan dimasukkannya pelan ke
vaginanya.
“Uppss.. ooh..”
rasanya nikmat sekali penisku
didalam vaginanya Mbak Santi terus bergoyang naik turun.
“Ahh.. enak..”erangku.
Mbak Santi terus bergoyang sambil
menjerit kecil. Dadanya yang naik turun langsung kuremas. Lalu kubalikkan
posisinya kebawah. Dan aku gantian memompanya dari atas. Aku terus memompa
sampai akhirnya dia mengerang panjang. Otot vaginanya berkontraksi meremas
penisku
“Oghh.. saya sudah keluar
sayang..” erang Mbak Santi.
Tiba-tiba, pintu kamar ada yang
mengetuk.
“San.. San!” suara perempuan.
Aku kaget dan sempat terhenti
mencumbu Mbak Santi.
“Teruskan, sayang..! Itu temanku, biarkan
saja,” kata Mbak Santi.
“San..!” pintu diketuk lagi diikuti suara
panggilan.
“Masuk aja, Lin, enggak dikunci,
kok” ujar Mbak Santi.
“Huuss..!! Kita lagi nanggung dan
bugil begini masa temenmu disuruh masuk..?” sergahku.
“Engga apa-apa, cuek aja..” kata
Mbak Santi enteng sambil tersenyum manis.
“Wah, rupanya lagi pada asyik
nih,” kata Lina begitu membukakan pintu dan masuk ke dalam kamar. Aku masih
dalam posisi jongkok dan penisku masih di dalam vagina Mbak Santi, dan hanya
menyeringai melihat kedatangan Lina.
“Mana cowokmu tadi?” tanya Mbak
Santi.
“Tahu kamu pulang ke hotel bawa cowok, yah aku
dibawa ke hotel lain” sahut Lina.
Aku masih bengong mendengar
percakapan dua cewek cantik itu. Tiba-tiba tangan Mbak Santi menarik tanganku
yang tersampir di pahanya.
“Ayo sayang goyangin penismu,
jangan kalah sama Lina” desak Mbak Santi.
Aku berdiri dan mengangkat tubuh
Mbak Santi ke tengah tempat tidur. Penisku yang sudah tegang dari tadi, segera
saya tembakkan lagi ke dalam lubang vagina Mbak Santi yang sudah tidak perawan
tapi masih terasa lengket. Kami sama-sama merasakan kehangatan yang nikmat.
“Yang dalam.. cepat.. ah..,
enak..” pinta Mbak Santi.
Aku pompakan penisku dengan penuh
gairah. Sementara Lina pergi ke kamar mandi dan mengurung diri disana. Mungkin
berendam di bathtub. Pengaruh inex membuat daya tahan persenggamaanku dengan
Mbak Santi cukup lama. Berbagai gaya kami lakukan. Mbak Santi beberapa kali
mengerang dan menggigit pundakku saat mencapai orgasme. Sementara penisku masih
anteng dan melesak-lesak ke dalam vagina Mbak Santi.
“Aduh.. capek, sayang..!” rintih
Mbak Santi. “Istirahat dulu.. yah..?”
“Sabar, dong, say. Aku sangat menikmati
hangatnya vaginamu,” rayuku.
Mbak Santi lantas menggelepar
pasrah, tidak kuasa lagi menggerak-gerakkan tubuhnya yang lagi kugarap. Matanya
terpejam. Aku semakin terangsang melihatnya tak berdaya. Kami sudah bermandikan
keringat. Tapi penisku masih tegang, belum mau memuntahkan sperma. Akhirnya aku
kasihan juga sama Mbak Santi yang sudah keletihan dan nampak tertidur meski aku
masih menggagahinya. Aku mendengar bunyi keciprak-kecipruk di kamar mandi.
Spontan aku bangkit dan melepas penisku dari vagina Mbak Santi. Dengan langkah
pelan supaya tidak membangunkan Mbak Santi dari tidurnya, aku berjalan dan perlahan
membuka pintu kamar mandi. Benar saja Lina sedang berendam di bathtup dengan
tubuh bugil. Ia nampak sedang menikmati kehangatan air yang merendamnya.
Kepalanya bersender pada ujung bathtub. Aku menghampirinya dengan penis yang
masih tegang. Mata lina terbuka dan kaget melihatku berdiri di sisi bathtup,
menghadap ke arahnya.
“Mana Santi?”
tanyanya setengah berbisik sambil
matanya turun naik melihat ke arah muka dan penisku yang ngaceng.
“Dia tidur.. jangan berisik,”
kataku sambil naik ke dalam bathtup dan langsung menindih tubuh Lina yang
sintal dan pasrah.
Kami bergumul dalam cumbuan yang
hot.
“Lin kamu diatas yah.. ” Sekarang posisiku ada
di bawah, dia segera naik keatas perutku dan dengan segera di pegangnya penisku
sambil diarahkan kevaginanya, kulihat vaginanya indah sekali, dengan bulu-bulu
pendek yang menbuat rasa gatal dan enak waktu bergesekan dengan vaginanya.
“Aaawww.. enak banget vagina kamu
Lin..”
“Enak kan mana sama punya
Santi..?” Katanya sambil memutar pantatnya yang bahenol. Rasanya penisku mau
patah ketika diputar didalam vaginanya dengan berputar makin lama makin cepat.
“Ah.. Lin.. enak banget ah..”
Aku pun bangun sambil mulutku
mencari pentil susunya, segera kukemut dan kuhisap.
“Ton.. saya mau keluar..”
“Rasanya mentok.. ah..” Memang dengan posisi
ini terasa sekali ujung batangku menyentuh peranakannya.
“Ah.. ah.. eh..” suaranya setiap
kali aku menyodok vaginanya.
Kugenjot vaginanya dengan cepat.
Dia seperti kesurupan setiap dia naik turun diatas batangku yang dijepit erat
vaginanya,
“Lin mau keluar..” Kupeluk erat
dia sambil melumat putingnya. Kupompa vaginanya sampai kami tak sadar
mengeluarkan desahaan dan rintihan birahi yang sampai membangunkan Mbak Santi.
Mbak Santi tiba-tiba berdiri di pintu kamar mandi dengan tubuh bugil dan matanya
menatap aku dan Lina yang lagi bersetubuh.
“Gitu yah, enggak puas dengan aku
kamu dengan Lina,” hardik Mbak Santi dengan nada manja, pura-pura marah. Eh,
malah Mbak Santi kini ikut naik ke dalam bathtup.
“San, ayo gantian, aku sudah dua
kali dibikin keluar, sampai lemes rasanya. Cowokmu ini terlalu perkasa,” kata
Lina.
“Ayo sayang, sekarang aku akan
membuat penismu muntah,” kata Mbak Santi.
Segera Mbak Santi hampiri saya di
dalam bath yang penuh dengan air, ditonton Lina yang duduk di ujung bathtup
sambil membasuh vaginanya, dan pahanya menjadi sandaran kepala Mbak Santi.
Kusuruh dia nungging, maka terlihatlah lubang vaginanya yang basah dan berwarna
merah, kuarahkan kepala penisku ke lubang tempiknya secara perlahan-lahan.
Kutekan penisku lebih dalam lagi, dia menggoyangkan pantatnya sambil menahan
sakit. Terdengar suara kecroot, kecroot bila kutarik dan kumasukan penisku di
lubang vaginanya, karena suara air kali ya. Mbak Santi semakin histeris, sambil
memegang pinggiran Bath Tub dia goyangkan pinggulnya semakin cepat dan suara
kecrat, kecroot semakin keras. Tak lama kemudian.
“Aduh say aku nggak tahan lagi ingin
keluar..”. “Aduh sayang.. terus..”
Mbak Santi terkulai lemas dan vaginanya
kurasakan semakin licin, sehingga pahaku basah oleh cairan vaginanya yang
keluar sangat banyak. Sebenarnya aku juga sudah nggak tahan ingin keluar,
apalagi mendengar desahan-desahan yang erotis pada saat Mbak Santi akan
orgasme.
“Aduh, sayang, aku kalah lagi
nih, sudah mau orgasme!”
Cairan hangat terasa masih mengalir dari dalam
vagina Mbak Santi. Aku masih terus menggenjot vaginanya. Wajah Mbak Santi
terlihat pucat karena sudah keseringan orgasme. Melihat wajah cantik yang
melemah itu, genjotanku dipercepat.
“Sayang, saya mau keluar nich..”
“Keluarkan di dalam aja sayang, kita
keluarin bersamaan, Santi juga mau keluar.”
Dan akhirnya spermaku mendesir ke
batang jakar dan aku mencapai orgasme yang diikuti pula dengan orgasme Mbak
Santi. Air maniku keluar dengan derasnya ke dalam vagina Mbak Santi dan Mbak
Santi pun menikmatinya.
“Akhirnya saya berhasil membuatmu
mencapai puncak kenikmatan sayang,” kata Mbak Santi sambil memeluk dan menciumi
bibirku.
Terasa nikmat, licin, geli
bercampur jadi satu menjadi sensasi yang membuatku ketagihan. Kami bertahan
pada posisi itu sampai kami sama-sama melepaskan air mani kami.
“Lin.. emut penisku sayang”
kataku lalu mencabut penisku dari vaginanya Mbak Santi.
Lalu Lina melumat 1/2 penisku
hingga pejuhku habis keluar.
“Mhh.. ah.. enak sekali pejuhmu”
katanya sambil mengocok ngocok penisku mencari sisa air pejuhku.
“Tapi sebentar lagi nagaku akan bangun lagi lho. Lihat, sudah mulai
menggeliat!” kataku, menggoda.
“Hhhaah..?” Mbak Santi dan Lina
terkesiap bersamaan kompak. Kemudian aku segera keluar dari bathtup mendekati
Lina dan menyuruhnya membelakangiku. Dari belakang saya mengarahkan penisku ke
vaginanya yang sudah basah lagi karena nafsu melihat saya dan Mbak Santi.
Sleepp.. bless..
Aku langsung memasukkan penisku
terburu buru, karena sempit waktu membuat kesakitan Lina.
“Aduuh pelan pelan dong Say..,
Lina sakit nih” katanya agak merintih.
“Sorry Sayang aku terlalu nafsu nih” kataku
lalu tanganku menyambar susunya yang menggelantung indah.
Lalu aku mulai memaju-mundurkan pantatku
sambil tanganku berpegangan pada susunya dan meremasnya.
“Shh.. ahh.. shh..” kata Lina setengah
merintih kenikmatan.
“Lin.. vaginamu sempit.. nikmat
Lin..” teriakku mengiringi kenikmatanku pada kemaluan kami.
Sleep.. bles.. cplok.. cplok..
irama persetubuhan kami sungguh
indah hingga aku ketagihan. Kami melakukan posisi nungging itu lama sekali
hingga kami sama-sama sampai hampir bersamaan.
“Shh.. ahh.. say, Lina sampai
nih” katanya sambil kepalanya mendongak kebelakang.
“Iya Lina sayang, saya juga
sampai nih, didalam yah say..” kataku lalu menghunjamkan penisku dalam dalam
divagina Lina.
Seerr.. croot..croot ootttttt
kami keluar hampir bersamaan lalu
aku mencabut penisku dari vagina Lina. penisku terlihat basah dari air mani
kami dan air kenikmatan Lina.
“Ugh.. say enak banget..” katanya. Lalu kami
duduk beristirahat ditepian sisi kamar mandi sambil menunggu sisa kenikmatan
yang tadi kami lalui...

Komentar
Posting Komentar