Aku
memiliki sebutan kembang desa yang cantik di desaku. Usiaku 18 tahun namaku
Dewi, tinggal di desa terpencil. Aku bersekolah hingga Sekolah Menengah
Pertama. Orangtuaku tidak mewajibkan aku bersekolah karena menurutnya sekolah
tinggi belum menjamin hidup yang makmur. Orangtuaku petani sayuran aku hidup
dari sayur mayor yang di tanam bapak dan ibuku sendiri.
Aku memilki adik laki-laki yang masih bersekolah SD.
Penghasilan orangtuaku tidaklah banyak namun di desa bapak termasuk yang
berpenghasilan tinggi. Jika panen banyak tengkulak kota yang datang untuk
membeli hasil panen. Sayur itu berupa wortel,kol,tomat,kembang kol kentang, dan
cabe. Bapak dan ibu setiap hari pergi ke ladang akupun ikut membantu. Semenjak
tidak bersekolah aku setiap hari membantu orangtua bercocok tanam.
Ladang bapak sangat luas, di daerah dataran tinggi
yang berhawa dingin ini cocok sekali untuk bercocok tanam. Hasil panen cabe
bisa mencapai 1 ton namun setiap hari juga harus rajin ke ladang untuk melihat
tanaman. Karena hama sangatlah senang dengan sayuran segar. Jika sayuran sudah
tumbuh dengan subur rasanya bahagia sekali.
Hasil keringat dan ketekunan setiap harinya menuai
hasil. Jika hasil panen melimpah bapak selalu mengajak anak-anak untuk pergi ke
kota. Ya sesekali melihat keramaian kota, maklum aku hanyalah gadis desa. Tidak
gampng bagi bapak untuk memasarkan sayuran di tengkulak. Bapak banting harga
lebih murah agar lebih banyak pelanggan.
Persaingan
sangat ketat semua warga di desa kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani.
Dari awal menikah dengan ibu bapak sudah bekerja sebagai petani. Hingga aku
dewasa ini mereka masih saja rajin menekuni pekerjaannya. Aku sangat menghargai
kerja keras orangtuaku. Aku mempunyai rutinitas memasak setiap pagi.
Aku
memasak untuk sarapan bapak ibuk dan satu orang yang membantu keluarga kami
namanya Mbak Lisa. Jika mereka sudah berangkat ke ladang aku membersihkan rumah
dan menyiapkan untuk makan siang. jam 11 aku sudah memasak dan aku antar ke
ladang. Nanti mereka makan siang aku yang membersihkan ladang memotong tanaman
penggangu di sekitar.
Memberi
pupuk pada tanaman dan menyiraminya. Bagiku itu sangat menyenangkan, sejak
tidak bersekolah itulah kegiatanku. Teman seusiaku juga kebanyakan ikut bekerja
orangtuanya. Disini sudah menjadi hal yang biasa, anak seusiaku bahkan
dibawahku tidak bersekolah. Sekitar 3 bulanan sayur mayur siap dipanen.
Biasanya
bapak meminta bantuan tetangga sekitar untuk membantu memanen sayuran. Karena
ladang sangat luas ada sekitar 10 orang yang membantu. Jika sudah dipanen mobil
pickup yang mengangkut sayuran itu sudah stanbay untuk membawa hasil panen.
Setiap hari di panen hingga ladang bersih dan dapat di tanami kembali.
Bapak
pekerja yang tekun dari hasil panen itu bisa untuk membeli 2 mobil pickup. Bisa
menabung untuk aku dan adikku, aku pun diberi bapak uang untuk membeli
keperluan sehari-hariku. Namun aku memilki kejadian yang sangatlah
memilukan. Kejadian itu berawal dari seorang tengkulak dari kota yang ingin
membeli hasil panen bapak.
Waktu
itu tengkulak dari kota itu namanya Pak Joko, dia langganan bapak. Pedagang
besar di kota dia yang menyetori swalayan besar dan pasar-pasar yang ada di
kota. Tidak sedikit yang dia beli hampir berkwintal-kwintal yang dia bawa ke
kota. Dia merupakan pelanggan tetap dan sudah lama bekerja sama dengan bapak.
Bapak
juga selalu menyisakan sayuran yang kualitasnya bagus untuk Pak Joko. Harga
berapapun dia tidak menolak karena memang kualitas sayuran bapak bagus. Suatu
hari bapak masih di ladang aku di rumahseperti biasa memasak untuk makan siang.
Ketika itu aku berangkat ke ladang jalan kaki karena sepedaku bannya bocor.
Menyusuri
jalan setapak aku sendiri sambil membawa makanan. Tiba-tiba Pak Joko
menghampiriku dengan menggunakan motor. Memakai kacamata hitam dan pakaian rapi
itulah pak Joko. Penampilan orang kota yang nyentrik usia pak Joko sekitar 33
tahun dia sudah memiliki anak 1 yang berumur 6tahun,
“ hay
Dewi..mau ke ladang ya?, ”
“ iya
pak…, ”
“
bareng saya aja, sekalian mau melihat dagangan apa yang udah siap di bawa ke
kota.., ”
“
ahh..nggak usah pak saya udah terbiasa jalan kaki…, ”
“ tidak
usah malu-malu Wik, ayolah naik ke motor bapak…, ”
Akhinya
aku mau untuk nebeng pak Joko sampaike ladang. Ke ladang memang membutuhkan
waktu yang lama sekitar 1.5 jam jika jalan kaki. Sepanjang perjalanan pak Joko
mengajak ngobrol aku, aku merasa tidak nyaman naik motornya. Karena dia selalu
mengerem mendadak membuat aku kaget. Jalan yang di lewati juga tidak seperti
biasanya,
“ lho
pak kok lewat sini? Kalau mau ke ladang bapak bukan sini pak jalannya, ini
jalan buntu pak…, ”
“ iya
wik aku pengen jalan-jalan dulu sama kamu…, ” ucap pak Joko
“ ini
bapak jam makan siang tolong pak langsung aja ke Ladang., ”
“
tidak Wik kamu turuti saja permintaanku.., ”
Pak
Joko memaksa aku sampai akhirnya aku berhenti di suatu tempat yang sepi,
tepatnya di ladan kosong. Pak Joko turun aku hanya terdiam dia menarik tanganku
dengan keras. Kala itu aku memakai rok panjangnya selutut dan kaos panjang. Aku
ketakutan sekali melihat wajah pak Joko yang garang. Dia menarikku hingga aku
terlempar ke semak belukar.
Sakit
sekali badanku , aku terus berfikiran entah mau diapain aku saat itu. Panas
matahari menyengat tubuhku namun hawanya tetap dingin. Pak Joko mendekati aku
dengan perlahan. Dia langsung menarik wajahku dan mencium bibirku, aku menolak.
Aku palingkan wajahku terus aku berpaling hingga dia susah untuk menciumku.
Ingin
berteriak namun tidak aka nada orang yang mendengar karena itu jalan buntu.
Tidak ada satu orangpun yang ada di sekitar ladang itu,
“
jangan pak..jangan lakukan ini…tolong pak…, ”
Tanpa
berkata-kata pak Joko kembali mencium bibirku dan memaskaku. Aku tak dapat
berpaling lagi dari ciumannya. Dia menciumku dengan sangat beringas, bibirku
terasa sakit sekali karena ciuman itu kasar. Tangannya meraba payudaraku
meremas-remas terus hingga aku lemas. Dia terus berusaha memegang bagian-bagian
sensitive dalam tubuhku.
Baju
panjangku di buka aku hanya memakai bra saja. Tangannya meremas-remas
payudaraku dengan semangat,
“
aaahhh..pak…aakkkhh pak…jangaaaannnn!!!!, ”
Disemak-semak
dedaunan kering aku tertidur terasa sangat gatal tubuhku. Pak Joko membuka
braku payudaraku yang besar menggantung dihadapannya. Dia tampak semakin
beringas melihat payudaraku. Bibirnya mendekati putingku dan menciuminya.
Lidahnya diputar-putar putingku serasa tegang dan menonjol,
“
aaaakkhh….aaakkhhhh pak….aaaaaaaaahhhhh….., ”
Tangan
kanannya meremas payudaraku bibirnya mengulum putting susuku serasa bergetar
tubuhku. baru pertama kali ini aku melakukannya. Badan pak Joko yang besar
berada diatasku , aku tidak bisa bergerak sama sekali. Nafasku rasanya sangat
sesak karena tertindih...
Lama-lama
aku menikmati setiap sentuhan lembut jemari Pak Joko. Mungkin ini yang
dinamakan horni, tubuhku sudah terbawa suasana pada siang itu. Matahari sangat
menyengat beralaskan semak belukar tidak mengurungkan niat pak Joko. Dia tetap
bersemangat dan bergairah memerkosa aku kala itu.
Aku
hanya pasrah dan menerima jangankan menolak berteriak pun aku sudah tak
sanggup. Semua sudah terasa nikmat saat pak Joko membangkitkan gairahku,
“
ooohhh….ooohhhh….pak….ooooouuugghhhh…….., ”
Pak
Joko mulai meraba bagian terbawah, sampai dipusarku dia menciumi ku aku tak
kuasa. Rok ku di lepas dengan paksa, aku hanya memakai celana dalam saja,
“
pak…jangaaaaaannn…., ”
Aku
meminta dia untuk jangan membuka celana dalamku. Aku tidak mau perawanku hilang
di tangan pak Joko. Aku harus berusaha menjaga keperawanan aku. Namun apa yang
aku lakukan akusudah tidak dapat berfikir lagi. Pak Joko membuka celana dalamku
yang berwarna hitam. Aku sudah benar-benar telanjang bulat,
Pak
Joko juga melepas pakaiannya , kita berdua telanjang di teriknya matahari.
Jemari pak Joko meraba memekku dari atas hingga ke bawah. Memekku yang masih
sedikit bulu itu dia elus-elus,
“
oohh…oohhh…aaakkhhh….oohhh….aaakkkhh…., ”
Jarinya
menyisir disetiap bagian memekku hingga aku melayang. Dia terus meraba-raba
hingga aku lemas tak berdaya. Jarinya masuk ke dalam lubang memekku, dia
putar-putar jarinya di dalam memekku,
“
aaakkkhh pak ….aakkkhhh…., ”
Memekku
tampak basah sepertinya aku mengeluarkan cairan. Aku memegang bahu pak Joko,
tiba-tiba wajahnya berada didepan memekku. Dia menjilati memekku dan
selakanganku. Kakiku mengangkang lebar memudahkan dia untuk menciumi memekku,
“
ooohhh pak….ooohhh…pakkk…..aaaakkkhh…pakkkk.."
Aku
lemas tak berdaya dibuatnya, aku sudha tidak memberikan perlawanan apapun. Aku
sudah pasrah badanku lemas. Aku melihat penis pak Joko sangat tegang dan tegak
besar sekali. Aku menutupi mataku , baru kali ini aku melihat penis lelaki.
Namun tanganku disingkirkan dengan kasar aku dipaksa tetap melihat penisnya
yang besar itu.
Pak
Joko menggesek-gesekkan penisnya ke lubang memekku. Terus dia geseekan hingga
basah memekku, licin dan sangat mudah untuk di masuki penisnya. Aku takut
sekali waktu itu. Wajah Pak Joko memerah tampak dia sangat bergairah. Setelah
itu penisnya masuk ke dalam memekku. Bagian ujung udah masuk di memekku. Terasa
sangat sakit sekali,
“
aaaaww….sakit pak..udah pak…aaaaakkkhhhhh…..aaaaakkhhhh….., ”
Dia tak
menghiraukan kesakitanku dia terus menekan penisnya keluar masuk di dalam
memekku. Awalnya perlahan namun lama-lama sangat keras. Sakit sekali memekku
keluar darah, itu tandanya keperawananku sudah hilang. Selaput keperawannanku
pecah. Sangat sakit perih sekali aku menangis, air mata terus mengalir,
“
aaaakkkkhh sakit…a.aaaaaaahhh…..aaahhhhh……., ”
Tekanan
itu keras sekali maju mundur hingga aku lemas. Kesakitan berubah menjadi
kenikmatan seketika sakit itu hilang berubah menajdi nikmat. Penisnya terus
mempompa d dalam memekku. Kuat sekali pak Joko dia terus menggoyangkan penisnya
di dalam memekku. Sungguh aku tak kuasa menahan kenikmatan itu, aku hanya bisa
mendesah nikmat,
“
aaaaaahhh pak…lagi pak….aaahhhh…aaaakkhhh….., ”
Keringat
bercucuran keluar dari tubuh pak Joko, keringat itu membasahi tubuhku.
Benar-benar olahraga disiang hari. Bibirnya sesekali masih saja mengulum
putingku, setiap dia memainkan putingku aku tidk kuat menahan kenikmatan.
Tubuhku menggeliat merasakan kenikmatan,
“
oohhh..ooohhh….oouuuggghh…aahhhh…ooouugghhh….aaaahhh paaakkk…, ”
Pantatku
diangkat pak Joko serasa penis itu tertancap di dalam memekku. Nikmat sekali,
“
aaaaahhhh……….aaaahhhhhhh…., ”
Pada
waktu itu pak Joko menggoyangkan penisnya keluar masuk terus hingga aku lemas,
“
aaaaahh pak udah pak….., ”
Ketika
gerakan pak Joko semakin cepat tiba-tiba dia melepas penisnya. Dan disemprotkan
di tubuhku cairan yang berwarna putih kental itu. Bara aku tau kalau itulah
yang dinamakan sperma pria,
“
ccccccrrroooooottt….cccrrttttoooott….cccccrrrrrrrooooooottt……., ”
“
aaaaaaaaahhhhhhhhhhh……., ”
Desahan lega pak Joko ketika sudah mengeluarkan
cairan kenikmatan.
Aku
menangis dengan keras pak Joko membelai rambutku. Dia menyuruhku berpakaian
kembali, dan mengantar aku ke ladang bapak. Disepanjang jalan setapak itu pak
Joko ngobrol seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa. Dalam hatiku sangat
sakit dan aku harus bagaimana aku sudah tidak perawan lagi.
Jika aku
bilang sama bapak, bapak akan kehilangan pelanggan yang sudah bertahun-tahun
menjalin kerjasama itu. aku terus menangis mengingat kejadian itu. Kejadian
pilu itu menjadi sebuah raahasia besar dalam hidupku sekaligus pengalaman
terburuk dalam hidupku.
TAMAT

Komentar
Posting Komentar